Kisah Ayu, Anak Panti RSAN Aceh Lulus SNBP, Berjuang Wujudkan Mimpi Jadi Hakim
![]() |
| LULUS SNBP - Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano bersama Fitri Rahayu saat melihat hasil SNBP dan dinyatakan lulus di Fakultas Hukum UIN Ar-Raniry, Kamis (2/4/2026) |
“Sedih sekaligus bahagia. Saya sampai menangis di sekolah, lalu langsung menghubungi orang tua kandung dan orang tua di panti.
BANDA ACEH - Air mata Fitri Rahayu pecah seketika saat melihat hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang menyatakan dirinya lulus di Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Di sudut sekolahnya, ia tak lagi mampu menahan haru—perjuangan panjang yang ia jalani akhirnya berbuah manis.
Di tengah keterbatasan sebagai anak asuh di UPTD Rumoeh Seujahtera Aneuk Nanggroe (RSAN) Dinas Sosial Aceh, capaian itu bukan sekadar kelulusan, melainkan titik balik dalam hidupnya—langkah awal menuju cita-citanya menjadi hakim.
“Sedih sekaligus bahagia. Saya sampai menangis di sekolah, lalu langsung menghubungi orang tua kandung dan orang tua di panti. Mereka juga ikut senang,” ujar Ayu, sapaan akrabnya dalam keterangan, Jumat (3/4/2026).
Ayu, siswi kelahiran 2007, menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Darul Imarah, Aceh Besar.
Ia berasal dari Kecamatan Panga, Aceh Jaya, sebelum kemudian tinggal di panti asuhan demi melanjutkan pendidikan dengan lebih baik.
Sejak kecil, kehidupan telah mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah.
Pengalaman itu membuatnya peka terhadap persoalan masyarakat kecil, terutama dalam hal keadilan hukum.
“Saya ingin membantu orang-orang kurang mampu, terutama yang punya masalah hukum tetapi sulit mendapatkan keadilan,” katanya.
Keinginan itu tumbuh menjadi cita-cita besar yaitu menjadi seorang hakim.
Bagi Ayu, hukum bukan sekadar ilmu, melainkan jalan untuk membela mereka yang kerap tak punya suara.
Perjalanan menuju SNBP tentu tidak mudah. Di tengah rutinitas sebagai anak panti, ia harus pandai membagi waktu antara belajar, kegiatan harian, dan keterbatasan fasilitas yang ada.
Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya.
Ia mengisi hari-harinya dengan belajar intensif, mengikuti bimbingan belajar, serta memperkuat ikhtiar melalui doa.
“Saya belajar, ikut bimbel, juga sholat sunnah dan berdoa supaya bisa lulus,” ujarnya.
Di balik keberhasilannya, ada peran besar para pengasuh panti yang terus memberi dukungan.
Salah satu sosok yang paling berpengaruh baginya adalah Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano.
“Saya melihat beliau seperti satu orang dengan banyak kemampuan. Dari situ saya termotivasi untuk tidak berhenti sampai SMA,” ungkapnya.
Lingkungan panti yang penuh dorongan positif membuat Ayu yakin bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Meski telah dinyatakan lulus, Ayu menyadari perjuangannya belum selesai.
Tantangan berikutnya adalah biaya pendidikan.
Ia bahkan telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk—bekerja sambil kuliah jika tidak mendapatkan beasiswa seperti KIP Kuliah.
“Saya akan mencari kerja agar tetap bisa kuliah,” katanya tegas.
Baginya, menjadi sarjana bukan sekadar meraih gelar, tetapi juga bentuk pembuktian diri—bahwa latar belakang bukan penghalang untuk berhasil.
Ia juga ingin menjadi penyemangat bagi adik-adiknya di panti.
“Saya ingin menjadi contoh. Saya bisa, mereka juga harus bisa,” ujarnya.
“Kalau bukan karena panti, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano, menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan kunci agar anak-anak panti mampu bersaing di masa depan.
“Sekarang ini minimal harus sarjana. Jika hanya lulusan SMA, mereka akan kesulitan bahkan untuk melamar pekerjaan,” ujarnya.
Menurutnya, pihak panti terus mendorong anak-anak asuh untuk melanjutkan pendidikan, dengan menyediakan berbagai dukungan—mulai dari fasilitas sekolah, bimbingan belajar, hingga kebutuhan sehari-hari.
“Kami arahkan sesuai minat mereka agar bisa fokus dan berkembang,” katanya.
Saat ini, sudah ada sejumlah anak panti yang menempuh pendidikan tinggi, dan Ayu menjadi salah satu yang terbaru.
Keberhasilan itu bukan hanya capaian pribadi, tetapi juga menjadi harapan baru bagi anak-anak lain di panti.
“Kami ingin mereka membawa perubahan bagi keluarganya dan keluar dari keterbatasan,” ujar Michael.
Ia berharap ke depan semakin banyak anak panti yang mampu melanjutkan pendidikan, bahkan hingga meraih beasiswa ke luar negeri.
Di tengah segala keterbatasan, kisah Ayu menjadi pengingat sederhana, bahwa mimpi tetap bisa tumbuh, bahkan dari tempat yang paling tak terduga.
Dan bagi Ayu, perjalanan itu baru saja dimulai.(*)
Sumber :
Serabinews.com

Komentar
Posting Komentar